Banyak orang datang ke klinik dengan keluhan fisik yang tak kunjung sembuh, mulai dari nyeri dada hingga lemas kronis. Sebagai praktisi, saya sering menemukan bahwa akar masalahnya bukan hanya di sel tubuh, melainkan di pikiran. Baru-baru ini, saya membedah kembali sebuah riset legendaris dari jurnal The Lancet yang menegaskan satu kalimat kuat: "No Health Without Mental Health" (Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental).
Ternyata, memisahkan kesehatan jiwa dari kesehatan raga adalah kesalahan besar yang selama ini kita lakukan. Mari kita bedah mengapa mental Anda adalah kunci dari raga yang sehat.
Mengapa kesehatan mental itu sangat penting bagi fisik kita?
Kesehatan mental sangat penting karena kondisi jiwa yang stabil merupakan fondasi utama bagi kesehatan fisik; gangguan mental dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, menurunkan sistem imun, dan menghambat proses penyembuhan penyakit fisik secara signifikan.Berdasarkan data yang saya pelajari dari riset tersebut, sekitar 14% beban penyakit di seluruh dunia disebabkan oleh gangguan neuropsikiatri. Ini termasuk depresi, kecanduan alkohol, hingga psikosis. Jika kita mengabaikan kesehatan mental, kita sebenarnya sedang membiarkan pintu terbuka bagi berbagai penyakit fisik lainnya untuk menyerang.
Bagaimana depresi bisa merusak kesehatan jantung dan metabolisme?
Saat saya mendampingi pasien dengan penyakit kronis, saya sering melihat pola yang sama: mereka yang mengalami depresi cenderung lebih sulit mengontrol gula darah atau tekanan darahnya. Mengapa demikian?Jurnal ini menjelaskan bahwa depresi bukan sekadar "sedih". Secara biologis, depresi memengaruhi hormon kortisol dan proses peradangan dalam tubuh. Berikut adalah beberapa hubungannya:
Apakah masalah mental memengaruhi penyakit menular seperti HIV dan TB?
Banyak yang mengira penyakit menular hanya soal kuman. Faktanya, kondisi mental memegang peranan krusial dalam pencegahan dan pengobatan. Berdasarkan analisis riset tersebut, orang dengan gangguan mental berat lebih rentan terpapar HIV karena perilaku berisiko.Selain itu, pada pasien Tuberkulosis (TB), depresi sering kali membuat mereka berhenti minum obat di tengah jalan. Hal ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan resistensi obat yang jauh lebih sulit disembuhkan.