Selama bertahun-tahun praktik, saya sering menemui pasien pria yang merasa cemas saat melihat angka PSA (Prostate Specific Antigen) mereka naik. Masalahnya, PSA ini seringkali "menipu". Angka yang tinggi belum tentu berarti kanker, bisa jadi hanya peradangan biasa. Setelah membedah riset terbaru dari Seminars in Cancer Biology, saya merasa perlu membagikan kabar baik ini: kini sudah ada biomarker (penanda biologis) baru yang jauh lebih cerdas dan akurat daripada sekadar tes PSA konvensional.
Apa saja biomarker kanker prostat terbaru selain PSA?
Biomarker kanker prostat terbaru yang kini mulai digunakan dalam praktik klinis meliputi PHI (Prostate Health Index), tes urin PCA3, serta panel genetik seperti TMPRSS2:ERG dan Prolaris. Penanda-penanda ini membantu dokter membedakan mana kanker yang agresif dan berbahaya, serta mana yang "jinak" sehingga tidak memerlukan tindakan biopsi yang menyakitkan secara berulang kali.
Mengapa tes PSA saja dianggap kurang akurat untuk diagnosis?
Berdasarkan pengalaman saya membedah berbagai kasus, PSA adalah penanda organ, bukan penanda spesifik kanker. Artinya, PSA bisa naik karena prostat membengkak (BPH), infeksi (prostatitis), atau bahkan karena faktor usia di atas 60 tahun. Riset menunjukkan bahwa korelasi antara level PSA dengan tingkat keparahan kanker sebenarnya cukup lemah. Inilah yang sering menyebabkan "overdiagnosis" atau tindakan medis yang sebenarnya tidak perlu.
Bagaimana cara kerja PHI (Prostate Health Index) dalam mendeteksi kanker?
Saat saya membaca detail riset ini, PHI muncul sebagai salah satu "pemain kunci". PHI bukan sekadar tes tunggal, melainkan formula yang menggabungkan tiga jenis PSA (PSA total,
free PSA, dan p2PSA).
Keunggulannya: PHI terbukti tiga kali lebih akurat dalam mendeteksi kanker prostat yang agresif dibandingkan tes PSA biasa.
Manfaatnya bagi Anda: Jika skor PHI Anda rendah, dokter mungkin bisa menunda biopsi dan hanya melakukan observasi rutin saja.Apakah ada tes yang lebih praktis seperti tes urin?
Ya, ada yang namanya
PCA3 (Prostate Cancer Antigen 3). Ini adalah tes urin yang dilakukan setelah dokter melakukan pemeriksaan fisik prostat. Berbeda dengan PSA, PCA3 tidak dipengaruhi oleh ukuran prostat atau infeksi. Jika skor PCA3 Anda tinggi, itu adalah sinyal kuat adanya sel kanker. Dalam riset ini disebutkan bahwa PCA3 sangat berguna bagi pasien yang pernah biopsi negatif tapi angka PSA-nya tetap naik—tes ini membantu memutuskan apakah perlu biopsi ulang atau tidak.
Apa itu tes genetik untuk kanker prostat?
Selain tes darah dan urin, kini kita memasuki era "kedokteran personal" dengan tes genetik seperti
TMPRSS2:ERG dan
Oncotype DX. Saya melihat ini sebagai kemajuan besar karena tes ini langsung memeriksa "mesin" dari sel kanker tersebut.
1.
TMPRSS2:ERG: Mendeteksi fusi gen yang terjadi pada sekitar 50% pria dengan kanker prostat.
2.
Prolaris & Oncotype DX: Tes ini memberikan "skor agresivitas". Jadi, kita tidak hanya tahu ada kanker, tapi kita tahu seberapa cepat kanker itu akan tumbuh.
Kesimpulan: Mana yang terbaik untuk saya?
Kabar baiknya, kita tidak lagi hanya bergantung pada satu angka PSA saja. Penggunaan kombinasi beberapa biomarker (seperti PHI dan PCA3) memberikan gambaran yang jauh lebih jernih bagi kami para praktisi untuk menentukan langkah pengobatan yang paling tepat bagi Anda. Jangan ragu untuk mendiskusikan opsi biomarker baru ini dengan dokter spesialis urologi Anda.
Referensi
Chistiakov, D. A., Myasoedova, V. A., Grechko, A. V., Melnichenko, A. A., & Orekhov, A. N. (2018).
New biomarkers for diagnosis and prognosis of localized prostate cancer. Seminars in Cancer Biology. https://doi.org/10.1016/j.semcancer.2018.01.012